Jumat, 09 Maret 2012

Baiklah, lanjut aja. Berikut ini adalah panggilan yang digunakan dalam suku Batak :
  • Abang
    Panggilan sesama pria (antara pria dan pria), yang adalah
    1. Kakak kandung
    2. Yang bermarga sama, dengan No. Generasi setingkat, tetapi No. Urut lebih tinggi.
    Contoh: Keturunan Gultom Hutapea, memanggil Abang kepada Keturunan Gultom Hutatoruan, yang memiliki No. Generasi sama (sama-sama Gultom, namun Hutapea lebih muda daripada Hutatoruan).
  • Akkang, Kakak
    Panggilan sesama wanita (antara wanita dan wanita), yang adalah
    1. Kakak kandung
    2. Kakak lelaki dari suami
    3. Wanita semarga dengan No. Generasi sama, tetapi urutan lebih tinggi (lebih tua)
  • Anggi, Adik
    Panggilan sesama wanita (yang wanita manggil yang wanita) atau sesama pria (yang pria manggil yang pria), yang adalah
    1. Adik kandung
    2. Adik lelaki dari suami
    3. Adik perempuan dari istri
    4. Semarga, dan No. Generasi sama, tetapi urutan lebih rendah (lebih muda)
  • Ito
    Panggilan dari pria kepada wanita atau sebaliknya (yang beda jenis kelamin), dengan aturan:
    1. Saudara pria/wanita dalam satu keluarga (saudara kandung, beda jenis kelamin)
    2. Pria/wanita semarga dengan No. generasi sama
    3. Wanita dengan no. generasi lebih tinggi memanggil Ito kepada pria semarga dengan No. generasi lebih rendah
    4. Anak laki-laki/perempuan dari saudara perempuan ibu
    5. Pria/Wanita sesama suku Batak yang tidak semarga
  • Lae
    Panggilan sesama pria, kepada:
    1. Saudara laki-laki dari pihak istri/saudara ipar laki-laki
    2. Suami dari saudara perempuan
    3. Anak lelaki dari Tulang
    4. Anak lelaki dari namboru
    5. Laki-laki sesama suku Batak yang tidak semarga
    Nah yang ini tuh biasanya buat yang baru ketemu dan ga tau manggil apa. Jadi kalo sama2 cowok, biasanya panggil Lae dulu
  • Eda
    Panggilan sesama wanita, kepada:
    1. Saudara perempuan dari pihak suami/saudara ipar perempuan
    2. Istri dari saudara laki-laki
    3. Anak perempuan dari Tulang
    4. Anak perempuan dari Namboru
    5. Wanita sesama suku Batak yang tidak semarga
    Sama dengan Lae, tapi yang ini untuk sesama cewek. Bisa dipakai kalo belum tau harus manggil apa
  • Amang Tua, Bapak Tua, Pak Tua (pilih salah satu ^^):
    Panggilan untuk pria, yang adalah:
    1. Kakak kandung ayah
    2. Semarga, dan memiliki No. Generasi setingkat dengan ayah (satu tingkat diatas kita), yang nomor urutnya lebih tinggi (lebih tua dari ayah).
    Contoh: Toga Gultom memiliki 4 orang anak yaitu Hutatoruan, Hutapea, Hutabagot, dan Hutabalian (Urut dari yang paling tua sampe yang paling muda). Anak-anak dari Hutapea memanggil Amang tua kepada Hutatoruan, demikian pula anak dari Hutabagot dan Hutabalian. Demikian pula anak dari Hutabagot memanggil Amangtua kepada Hutapea. Demikian seterusnya.
    3. Suami dari kakak perempuan ibu, baik langsung maupun tidak langsung, yang semarga dengan ibu (maksudnya kakak perempuannya yang semarga dg ibu. Nah suaminya itu dipanggil Bapak Tua).
  • Inang Tua, Mama Tua, Mak Tua:
    Panggilan untuk wanita, yang adalah:
    1. Istri dari Amang Tua
    2. Kakak perempuan ibu baik langsung maupun tidak langsung yang semarga dengan ibu (kakak perempuannya yang semarga. Ga ngerti jg yah?).
  • Amanguda, Bapauda, Uda (Panggilan untuk cowok)
    Kebalikan dari Amang Tua. Kalo Amang Tua adalah kakak, maka Amanguda adalah adik (panggilan untuk sodara laki-laki bapak yang lebih muda dari bapak).
  • Inanguda (Panggilan untuk cewek)
    Kebalikan dari Inang Tua. Kalo Inang Tua adalah kakak, maka Inanguda adalah adik perempuan ibu yang semarga dengan ibu. Ga harus adik kandung sih. Adik sepupu ibu jg boleh asal masih semarga. Juga panggilan buat istrinya Uda.
  • Inangbaju
    Sebutan untuk Saudara perempuan ibu yang belum menikah. Pada saat ini, sebutan ini umumnya diganti menjadi Tante, mengikuti perkembangan zaman.
  • Namboru
    Panggilan untuk wanita, yang:
    1. Saudara perempuan dari ayah, baik langsung maupun tidak langsung yang semarga dengan ayah. Bisa lebih muda, bisa lebih tua
    2. Semarga, dengan No. Generasi lebih tinggi (berarti setingkat ayah). Inget, panggilan utk wanita.
    Untuk wanita, kalau no. gererasi lebih tinggi 2 tingkat atau lebih, tetap dipanggil namboru.
  • Amang Boru
    Panggilan untuk pria, yang adalah suami dari namboru.
  • Tulang
    Panggilan untuk pria yang adalah:
    1. Saudara laki-laki dari ibu
    2. Pria yang semarga dengan ibu, dan memiliki No. generasi setingkat dengan ibu
  • Nantulang
    Panggilan untuk wanita, yang adalah istri dari Tulang (simple huh?)
  • Opung Doli
    Panggilan untuk pria, yang:
    1. Ayah dari ayah/ibu (kakek laki2 kandung dari ayah ato dari ibu)
    2. Paman dari ayah/ibu (ini berarti sodaranya kakek laki2 ayah ato ibu)
    3. Semarga dengan no. generasi 2 tingkat lebih tinggi (satu marga kita, tapi setingkat opung)
    4. Semarga dengan ibu dengan no. generasi 1 tingkat lebih tinggi dari ibu (satu marga ibu, tapi setingkat opung)
    Cth : Saya Panggabean, ibu saya boru Pangaribua. Yang kupanggil Opung Doli adalah kakek laki2 saya dari ayah (berarti sama2 marga panggabean), dan kakek laki2 dari Ibu saya yang bermarga Pangaribuan. Dan juga
  • Opung Boru
    Panggilan untuk wanita, yang adalah istri dari Opung Doli (maksudnya ya Nenek, ntah dari ayah ato dari ibu)
  • Pahompu
    sebutan untuk cucu
  • Anak
    Sebutan untuk anak
  • Parumaen
    Sebutan untuk menantu perempuan
  • Simatua, Mertua
    Sebutan untuk mertua


Versi sejarah mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang. Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.
 
Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.
 
Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.
 
Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.
Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan:
  • Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus. •Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).
 
  • Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya.
 
Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.
 
Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak.
 
Sumber:
disarikan dari buku "LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA" cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama, Jakarta.
 
 
 
SIAPAKAH ORANG BATAK ?
 
Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara geografis dibagi sbb:
 
  1. Batak Toba (Tapanuli), mendiami Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah mengunakan Bahasa Batak Toba.
  2. Batak Simalungun, mendiami Kabupaten Simalungun dan menggunakan Bahasa Batak Simalungun.
  3. Batak Karo, mendiami Kabupaten Karo dan menggunakan Bahasa Batak Karo.
  4. Batak Mandailing, mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan dan menggunakan Bahasa Batak Mandailing.
  5. Batak Pakpak, mendiami Kabupaten Dairi dan menggunakan Bahasa Pakpak.
 
 
 
Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak. Namun demikian, mereka mempunyai marga-marga seperti halnya orang Batak.
 
 
DALIHAN NA TOLU, TOLU SAHUNDULAN
(The Philosophy of Life)
 
Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun).
Dalihan dapat diterjemahkan sebagai "tungku" dan "sahundulan" sebagai "posisi duduk".
Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu:
 
  1. HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di atas", yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.
  2. DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya "sejajar", yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
  3. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di bawah", yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.
 
 
 
Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU.
Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang.
 
Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat.
Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya.Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.
 
MARGA dan TAROMBO
 
MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal).
Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki.
Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya.
Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.
 
Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak", jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.
 
TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.
Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga.
Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo.
Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah mereka saling "mardongan sabutuha" (semarga) dengan panggilan "ampara" atau "marhula-hula" dengan panggilan "lae/tulang".
Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan ayah/bibi), "Amangboru/Makela",(suami dari adik ayah/Om), "Bapatua/Amanganggi/Amanguda" (abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik), PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.
 
 
ULOS BATAK
 
 
Secara harafiah, ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah dari terpaan udara dingin.
Menurut pemikiran leluhur Batak, ada 3 (tiga) sumber kehangatan : (1) matahari, (2) api, dan (3) ulos.
 
Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh malam hari, dan api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya.
Dalam pengertian adat Batak "mangulosi" (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru.
 
Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dalam upacara adat yang bagaimana.
 
Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang "non Batak" bisa diartikan penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat diiringi ucapan semoga dalam menjalankan tugas tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.
Ulos juga digunakan sebagai busana, misalnya untuk busana pengantin yang menggambarkan kekerabatan Dalihan Natolu, terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).
 
 
 
HORAS!
 
Adalah salam khas orang Batak yang berarti selamat, salam sejahtera, yang kerap diucapkan dalam kehidupan sehari-hari bila 2 orang atau lebih bertemu.
Padanan kata horas adalah Mejuah-juah (Batak Karo, Batak Pakpak), Yahobu dari daerah Nias. Sedangkan Ahoiii! adalah salam khas daerah pesisir Melayu di Sumatera Utara.
Horas bisa juga berarti selamat jalan/datang, selamat pagi/siang/malam dan lain lain yang maknanya baik. Karena populernya kata horas, orang-orang non Batak juga sering mengucapkan kata tersebut jika bertemu dengan orang Batak.
 
LEGENDA SI RAJA BATAK
 
Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.
 
Mulajadi Na Bolon berkata, "Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!" Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, ketiganya adalah lelaki.
 
Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.
 
Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). "Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA," kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.
"Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?" tanya Tuan Batara Guru.
"Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya," kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.
 
Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.
Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.
"Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal," katanya terisak-isak.
"Jangan begitu adikku," kata Datu Tantan Debata. "Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda."
 
Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar "gondang" karena ia ingin "manortor" (menari) semalam suntuk.
Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya.
Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke "para-para" dan dari sana ia melompat ke "bonggor" kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!
 
Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.
Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. "Sorry ya, apa lagi saya," katanya.
Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar "gondang" semalam suntuk karena ia ingin "manortor" juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).
 
Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak.
Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.
Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.
"OK," katanya. "Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan."
Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.
 
Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.
Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.
Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan).
 
Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.
 
Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!

Indahnya Pariban


OPINI | 27 August 2011 | 20:21 Dibaca: 411   Komentar: 40   1 dari 2 Kompasianer menilai menarik
Di dalam budaya batak ada hubungan ber-pariban. Pariban itu sebenarnya sepupu. Yang artinya anak lelaki dari Namboru dan anak perempuan dari Tulang dapat dipasangkan/dinikahkan. Namboru itu sendiri adalah adik/kakak dari ayah kita. Dan Tulang itu adalah adik/abang dari Ibu kita. Dalam arti kita menikah dengan keluarga(sepupu) sendiri. Namun dalam hukum adat itu diperbolehkan.
Orang batak juga tidak hanya dapat menemukan istilah pariban hanya dalam hubungan keluarganya saja. Tetapi melalui partuturan (menentukan hubungan kekerabatan melalui marga).
Partuturan ber-pariban itu sendiri sebenarnya berpatokan pada marga Ayah si wanita dengan marga Ibu si pria yang harus sama. Sehingga walau pun tidak satu Ibu tetapi sama marga itu sudah termasuk saudara dalam partuturan Batak. Sehingga anak-anak mereka di-partuturkan menjadi sepupu dan bisa juga di-pariban kan.
Seperti yang kita tahu suku batak menganut garis keturunan yang Patrilineal. Jadi bagi pria tidak perlulah dia capek-capek mencari tahu dan kemudian mencocokkan marga calon mertuanya dengan marga Ibunya (Jika sama! Pariban). Cukup hanya menanyakan marga dari si wanita. Jika marga si wanita sama dengan marga Ibunya maka itu Pariban.

Asal Usul Suku Batak(1)


OPINI | 19 April 2010 | 23:28 Dibaca: 17256   Komentar: 28   3 dari 5 Kompasianer menilai Menarik
Suku Batak.
Mari kita mengenal lebih dekat tentang suku Batak mulai dari asal usulnya,adat istiadatnya,mengapa suku batak suka merantau meninggalkan kampung halamanya dan segala sesuatu yg lainya tentang suku batak.
Sejarah((asal usul)suku Batak .
Asal usul suku Batak sangat sulit untuk ditelusuri dikarenakan minimnya situs peninggalan sejarah yg menceritakan tentang suku Batak,maka sering dikatakan menelusuri asal usul suku Batak adalah orang yg kurang kerjaan.tapi bagi saya nggak jadi masalah dikatakan kurang kerjaan,siapa tau ada dari para pembaca yg bisa lebih melengkapi tulisan ini saya akan sangat berterima kasih.
dengan mengutip dari berbagai sumber termasuk tulisan diberbagai blog dan juga buku2 yg menuls tentang Batak saya mencoba untuk menyajikanya bagi para pembaca
Suku Batak adalah salah satu dari ratusan suku yg terdapat di Idonesia,suku Batak terdapat di wilayah Sumatera Utara.Menurut legenda yg dipercayai sebahagian masyarakat Batak bahwa suku batak berasal dari pusuk buhit daerah sianjur Mula Mula sebelah barat Pangururan di pinggiran danau toba.
Kalau versi ahli sejarah Batak mengatakan bahwa siRaja Batak dan rombonganya berasal dari Thailand yg menyeberang ke Sumatera melalui Semenanjung Malaysia dan akhirnya sampai ke Sianjur Mula mula dan menetap disana.
Sedangkan dari prasasti yg ditemukan di Portibi yg bertahun 1208 dan dibaca oleh Prof.Nilakantisari seorang Guru Besar ahli Kepurbakalaan yg berasal dari Madras,India menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya dan menguasai daerah Barus.pasukan dari kerajaan Cola kemunggkinan adalah orang2 Tamil karena ditemukan sekitar 1500 orang Tamil yg bermukim di Barus pada masa itu.Tamil adalah nama salah satu suku yg terdapat di India.
siRaja Batak diperkirakan hidup pada tahun 1200(awal abad ke13)
Raja Sisingamangaraja keXII diperkirakan keturunan siRaja Batak generasi ke19 yg wafat pada tahun 1907 dan anaknya si Raja Buntal adalah generasi ke 20.
Dari temuan diatas bisa diambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar leluhur dari siRaja batak adalah seorang pejabat atau pejuang kerajaan Sriwijaya yg berkedudukan diBarus karena pada abad ke12 yg menguasai seluruh nusantara adalah kerajaan Sriwijaya diPalembang.
Akibat dari penyerangan kerajaan Cole ini maka diperkirakan leluhur siRaja Batak dan rombonganya terdesak hingga ke daerah Portibi sebelah selatan Danau Toba dan dari sinilah kemungkinan yg dinamakan siRaja Batak mulai memegang tampuk pemimpin perang
atau boleh jadi siRaja Batak memperluas daerah kekuasaan perangnya sampai mancakup daerah sekitar Danau Toba,Simalungun,Tanah Karo,Dairi sampai sebahagian Aceh dan memindahkan pusat kekuasaanya sidaerah Portibi disebelah selatan Danau Toba.
Pada akhir abad ke12 sekitar tahun 1275 kerajaan Majapahit menyerang kerajaan Sriwijaya sampai kedaerah Pane,Haru,Padang Lawas dan sekitarnya yg diperkirakan termasuk daerah kekuasaan siRaja Batak
Serangan dari kerajaan Majapahit inilah diperkirakan yg mengakibatkan si Raja Batak dan rombonganya terdesak hingga masuk kepedalaman disebelah barat Pangururan ditepian Danau Toba,daerah tersebut bernama Sianjur Mula Mula dikaki bukit yg bernama Pusuk Buhit,kemudian menghuni daerah tersebut bersama rombonganya.
terdesaknya siRaja Batak oleh pasukan dari kerajaan Majapahit kemungkinan erat hubunganya dengan runtuhnya kerajaan Sriwijaya dipalembang karena seperti pada perkiraan diatas siRaja Batak adalah kemungkinan seorang Penguasa perang dibawah kendali kerajaan Sriwijaya.
Sebutan Raja kepada siRaja Batak bukanlah karena beliau seorang Raja akan tetapi merupakan sebutan dari pengikutnya ataupun keturunanya sebagai penghormatan karena memang tidak ada ditemukan bukti2 yg menunjukkan adanya sebuah kerajaan yg dinamakan kerajaan Batak.
Suku Batak sangat menghormati leluhurnya sehingga hampir semua leluhur marga2 batak diberi gelar Raja sebagai gelar penghormatan,juga makam2 para leluhur orang Batak dibangun sedemikian rupa oleh keturunanya dan dibuatkan tugu yg bisa menghabiskan biaya milyartan rupiah.Tugu ini dimaksudkan selain penghormatan terhadap leluhur juga untuk mengingatkan generasi muda akan silsilah mereka.
didalam sistim kemasyarakatan suku Batak terdapat apa yg disebut dengan Marga yg dipakai secara turun temurun dengan mengikuti garis keturunan laki laki.ada sekitar 227 nama Marga pada suku Batak.
Didalam buku Tarombo Borbor Marsada dikatakan bahwa siRaja Batak memiliki 3(tiga)orang anak yaitu:
-GURU TATEA BULAN (siRaja Lontung)
-RAJA ISOMBAON (siRaja Sumba)
-TOGA LAUT.
Ketiga anak siRja Batak inilah yg diyakini meneruskan tampuk pimpinan siRaja Batak dan asal mula terbentuknya marga2 pada suku Batak.

Anakku, Dame Marhasak Galumbang

Jam dinding berdentang 3 kali. Tepat jam tiga subuh. Parlin terlihat mondar-mandir, raut wajahnya diselimuti kegelisahan yang berpadu dengan kecemasan dan kebingungan. Kepalanya mendongak setiap kali pintu itu berderit. Tampak beberapa perawat berpakaian putih-putih berjalan tergopoh-gopoh, dengan senyum yang sepertinya dipaksakan. Sudah sejam lebih dia menunggu proses persalinan istrinya, Marlina. Keringat mulai membasahi wajahnya. Tegang. Sesekali dia berjalan ke arah pintu, namun tak ada yang bisa dilakukan. Suara tangisan bayi dari ruangan bayi tepat sebelah kanan lorong dimana ia berdiri, menambah kegalauan hatinya.
Beribu pertanyaan muncul di benaknya. Bagaimana rupa anaknya yang sebentar lagi akan lahir?, seperti dirinya kah?. Atau barangkali mirip ibunya dengan lesung pipitnya. Atau meyerupai wajah oppungnya, NaiParlin, yang rambutnya keriting tapi hidungnya mancung?. Dia juga mereka-reka kalau anaknya nanti mirip dengan wajah mertuanya laki-laki, wajah kotak khas orang batak dengan tampang yang tegas dan suara menggelegar. Dan banyak wajah menghinggapi benaknya. Sesekali, genggaman tangan kananya beradu dengan telapak tangan kirinya.
Parlin merogoh kantongnya, mencari HP hendak menghubungi seseorang. Berkali-kali dia mencoba menghubungi nomor yang sudah dia hapal betul, namun tak ada jawaban. Hatinya semakin tak menentu.
Dikursi sebelahnya Mbok Inah, pembantu yang sudah setahun ini ikut mereka tertidur pulas. Parlin tahu, kalau pembantunya yang baik hati ini sudah seminggu ini tak bisa tidur dengan tenang. Dengan setia dan cekatan, Mbok Inah, perempuan setengah baya dari Purwokerto ini menemani istrinya, menyiapkan perlengkapan bayi hingga menunggu saat-saat kelahiran putra pertamanya, seperti saat ini.
“Gimana keadaan istri saya, Suster?” ujarnya seraya menuju seorang perawat yang baru keluar dari ruangan bercat putih bersih itu.
“Belum Pak, perkiraan dokter kemungkinan putra bapak akan lahir tiga jam lagi, sabar ya Pak…”
“Iya, iya…boleh saya masuk kedalam, menemani istri saya?”
“Boleh, silahkan, sebaiknya memang begitu” ujar perawat berparas ayu itu tersenyum sambil berlalu.
Parlin segera masuk kedalam ruangan. Dilihatnya marlina terbaring, tampak kuat dan tegar. Seluas senyum tersungging di pipinya. Parlin membalasnya, dan mengecup pipi istrinya. “Bagaimana?” ujarnya seraya mengelus perut Marlina yang semakin membuncit.
“Tunggu saja Pak, nggak apa-apa kok, kata dokter persalinanya normal kok”
“Syukurlah, kita berdoa, yuk”
Marlina hanya mengangguk dan terseyum seraya mengelus wajah Parlin yang sedikit berewokan, dan dia melipat tanganya.
Parlin diam membisu.
“Pa, sudah papa telpon amang dan inang di kampung?”.
“Belum” jawab Parlin pendek.
“Kenapa?”
“E,.e.hmm..”
“Teleponlah Pa, juga omak ya, kasih tahu saja keadaan kita sekarang”.
Marlina memanggil ibu mertuanya dengan sebutan inang sebagaimana lazimnya orang batak. Sementara panggilan pada ibunya sendiri tepat omak. Parlin bingung, lalu menggangguk perlahan. “Mereka akan segera kesini, hasian”, dia berbohong. Dia keluar ruangan bersalin itu dengan melepas pakaian pengunjungnya. Dirogohnya kembali kantong celananya, seraya mengeluarjan HPnya.
* * *
Menjelang sore, gerbang kampus yang semakin menyempit karena aktifitas di kios fotokopy semakin ramai. Hiruk pikuk, bak Pasar Sambu. Malah sudah sama. Ribuan orang lalu lalang dari tempat itu. Tak pernah tidur, mungkin itulah gambaran yang cocok untuk tempat itu.
Marlina tampak gelisah. Pandanganya lurus kedepan, mengarah ke pelataran parkiran kampus yang jauh di depan. Sesekali jemarinya yang lentik memainkan lembaran kertas, mengipas-ipas wajahnya yang merona merah. Dia melempar senyum pada sekelompok penarik becak yang berbaris teratur. Mungkin celotehan mereka bukan keisengan, atau melecehkan. Alasanya, setidaknya beberapa dari mereka adalah langganannya. Hanya bercanda. jadi dia hanya membalas siulan dan sapaan mereka dengan senyum manisnya. Hampir tiap hari Marlina naik becak dari situ, gedung kuliahnya yang tepat berada di pojok ujung, harus ditempuh dengan menggunakan jasa becak.
Akhirnya rasa lega menghinggapi dirinya setelah orang yang ditunggu nongol juga.
“Ada apa? ” tanya Parlin seraya meletakkan bundelan tugas akhir yang baru saja di fotokopinya.
“Bawa aku pergi”
“Bah, bawa aku pergi, baru saja sampai, udah diminta bawa pergi. Bawa kemana?, ini sudah sore, panas dan mungkin sebentar lagi hujan?” kata Parlin cuek, wajahnya menengadah ke atas, tak mengerti maksud perkataan Marlina.
“Aku tidak bercanda, bawa aku pergi” ujar Marlina dengan mimik serius.
“Iya boru ni raja, bawa kemana? pulang? ntar dulu, habisin dulu tuh goreng pisangmu” kata Parlin lagi
“Bukan itu maksudku”
“Jadi?”
“Iya, pilih mana, aku menikah sama orang yang tak kucintai, atau kau mau membawaku pergi jauh?”
“Hught!” Parlin tersedak. Tak menyangka Marlina bicara seperti itu. Tak ada angin, hujan, tiba-tiba ada petir, Marlina memberikan dua pilihan.
“Sadar sayang, sadar hasian” kata Parlin, mencoba bersikap tenang. Dia menatap Marlina lekat-lekat. Tak pernah bosan, sekalipun, Parlin memandangi wajah kekasihnya itu. Dia begitu mengangumi kecantikan Marlina, pun kebaikan hatinya yang menurutnya tak ada duanya. “Ah, cinta mallabab kalipun aku ini”, ujarnya dalam hati
“Apa lihat-lihat” sergah merlina, wajahnya cemberut.
“Nggak, aku cuman berandai-andai”
“Apa”
“Seandainya ada bidadari disini, kamu pasti dibunuhnya”
“Kenapa? apa salahku” tanya Marlina, sedikit cemberut.
“Dia pasti membunuhmu, karena iri akan kecantikanmu hasian, kamu lebih cantik dari bidadari”
“Basi!, nggak lucu” ujar Marlina seraya mencubit pinggang Parlin dengan keras. Parlin berteriak kesakitan, tak menyangka bakal dicubit sedemikian keras. Teriakanya mengagetkan tukang gorengan, yang hanya menggeleng kepala melihat tingkah mereka.
“Gimana?”
“Iya, apanya yang gimana?, ada-ada saja permintaanmu”
“Iya, seseorang akan melamarku bulan depan, anak ni namboru parJakarta itu. Namboru mau datang tepat hari wisudaku bulan depan. Aku tak mau!”
“Yang dulu kamu ceritakan itu?”
“Iya, bulan depan mereka datang, tadi malam saya diberitahu Bapauda di rumah”, Marlina menjelaskan perkaranya. Marlina tinggal di rumah bapaudanya amanTagor di Medan.
“Nggak mungkin kita mangalua, pergi diam-diam, kita harus mempertimbangkan masak-masak, jangan buru-buru, ini menyangkut masa depan kita. Apa kamu mau, hubungan ini pada akhirnya tidak mendapat restu dari orang tua?, mungkin masih ada celah dimana tulang mau menerima hubungan kita ini”, ucap Parlin datar.
“Apa kau pikir masih ada cara?, pikiranku sudah buntu, bingung” ujar Marlina.
Parlin terdiam. Dia ingat ucapan Sanggam, temannya semasa SMA dulu yang sekarang jadi supir Sampri. Beberapa hari yang lalu mereka bertemu ketika Parlin hendak menitipkan surat. Dari kecil mereka sudah berteman, bahkan sering tidur dan belajar bersama. Lelaki yang saban bulan mengunjunginya di tempat kostnya, sebenarnya seorang yang pintar, jika tak bisa dibilang jenius. Bukankah nilai ujian akhir, sembilan, menunjukkan kejeniusan seseoarang?. Nasib dan keadaan ekonomi yang memaksa Sanggam harus selalu berada dibelakang kemudi.
Raut wajah Sanggam terlihat lima tahun lebih tua dari umurnya. Wajahnya yang persegi, kulitnya yang hitam legam dan bicaranya yang meledak, berbeda dengan dirinya, melankonis.
“Masih lanjut hubunganmu dengan paribanku itu?”
“Iya, poreper, kenapa?” Parlin balik bertanya
“Apaan artinya”
“Saleleng au mangolu-selama aku hidup, kenapa sih?”, Parlin bertanya lagi.
“Nggak, kasihan lihat kalian berdua, pacaran seperti ini”
“Iya..banyak yang bilang begitu”, Parlin lalu terdiam. Sanggam memainkan asap rokok kreteknya, seraya mengibas-ibaskan handuk pendeknya. Sesekali dilap keringatnya. Panasnya kota Medan sungguh tak tertahankan, apalagi di siang hari.
“Kau sudah tahu, kalau Marlina akan dilamar anaknya inanguda par Jakarta?”
“Itu hanya kabar burung, gosip ina-ina di onan”, jawab Parlin. Tentunya gossip seperti itu cepat tersiar, Marlina seorang putri dari tokoh masyarakat-happung, dikabarkan akan segera menikah.
“Sepertinya itu benar, dua hari lalu, tulang itu datang ke rumah, membicarakan hubungan mereka, dan minta bapakku untuk membantu mempersiapkannya, kau tau, kami ini kan boru mereka”, ujar Sanggam. Tradisi orang batak, ketika hendak mengadakan hajatan maka boru-pihak yang mempunyai istri dari marga kita-lah yang mengatur segalanya. Berhasilnya satu hajatan, tergantung dari kinerja dan niat boru yang punya hajatan. Sungguh hebat bukan?, sebuah pesta diharapkan berhasil tergantung dari pihak ketiga?.
“Aku tak mau berkomentar, sebelum Marlina yang bicara sendiri” jawab Parlin, seolah menghibur diri, pada hal ada rasa kaget dalam dirinya.
* * *
Mungkin, bukan suatu kebetulan kalau AmaniMarlina dan AmaniParlin pulang kampung sama-sama. Masa kanak-kanak mereka lalui bersama. Kata orang, persahabatan mereka bagaikan rasanya air tawar. Menyatu dan tak hambar. Rasa cinta pada bonapasogit, akhirnya menghantarkan mereka kembali bertemu setelah puluhan tahun berpisah. Pertemuan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sudah berkeluarga.
Walaupun dengan alasan yang berbeda, toh mereka sudah membulatkan tekad untuk membangun kampung halaman. Bagi amaniParlin, merawat oppuParlin adalah alasan utama kepulangannya. Sebagai anaksasada, dia tak tega membiarkan OppuParlin doli, hidup sendirian.
Cerita punya kisah, kisah punya cerita, perselisihan gareja nabolon di tingkat pusat, ternyata berdampak pada hubungan persahabatan keduanya. OppuParlin sebagai pensiunan penetua, berada di satu pihak dan amaniMarlina yang juga sebagai penetua berada dipihak yang berseberangan.
Jalan terbaik bagi keduanya adalah pisah huria. Satu pagi, satu siang. Cukup adil bukan?. Toh, tak hanya gereja mereka yang seperti itu. Mungkin puluhan, atau barangkali ratusan jemaat terpaksa harus mendirikan gereja baru, bila tak ingin bersama dengan jemaat lain. Atau pindah ke gereja merek lain, kalau melihat wajah lawan yang kalo berpapasan ketika pergantian jadwalpun, dianggap menjijikkan.
Parlin tak habis pikir, jika amaniParlin harus bermusuhan hanya gara-gara persoalan seperti itu. Toh tak ada untung atau ruginya. Dari dulu Parlin sudah mereka-reka, kalau pimpinan yang berselisih itu suatu saat akan berdamai. Mungkin juga akan Marbada na homom, atau marbada dalam damai. Lalu, bagaimana dengan jemaat kecil seperti bapaknya?. Parlin kecil tak menyangka, situasi di sekolah minggu yang dulunya nyaman dan menyenangkan kini tak ada lagi. “Aku harus sekolah minggu gereja pagi, kita tak bisa bersekolah minggu bersama lagi” ujar Marlina.
“Aku tahu, mungkin kita tak kan pernah berteman lagi” jawab Parlin.
Marlina hanya mengangguk.
* * *
Babak baru perselisihan keduanya adalah ketika mereka sama-sama mencalonkan diri jadi kepala desa, yang akhirnya dimenangkan oleh AmaniMarlina. Ibarat air dengan minyak, keduanya semakin tak pernah bertemu. Parlin remaja, tak menyangka kalau perselisihan orang tuanya semakin meruncing.
“Jangan kau dekati boru ni happung itu, aku tak suka” ujar amaniParlin, ketika dilihatnya Marlina berjalan bersamanya, pulang dari sekolah.
Parlin terdiam.
“Heh, kau dengarnya bapak bicara?”
“Pa, apa yang salah dengan pertemanan kami”
“Sekali kubilang tidak, ya, tidak, kau carilah perempuan lain” ujar amaniParlin.
Perselisihan yang semakin tajam ketika memasuki masa-masa pemilu. AmaniParlin ditunjuk seorang caleg menjadi timsukses. Dan ternyata dia tahu, kalau amaniMarlina diam-diam juga menjadi tim sukses.
“Bah, maccam mana negera ini, sebagai seorang pejabat publik, harusnya netral” ujar amaniParlin, bak seorang pengamat politik di tipi-tipi itu, seraya menyerubut kopi panas di hadapanya. OppuMaringanboru, tersenyum dibali k etalasenya. Bukan sekali ini saja amaniParlin mengomel seperti itu. Dia tahu, siapa yang dimaksud.
“Betul itu Amangboru, bisa-bisa uang ka u de kita dipakai buat kampanye” ujar amaniHiltung, seseorang yang sebenarnya tak pernah menabung di ka u de.
“Bah, jangan begitu, nggak boleh berburuk sangka, sitogong hail na be do nuaeng on-pasang umpan masing-masing lah” ujar OppuMaringandoli, bersikap menengahi.
“Bukan begitu Tulang, gini-gini, kita tahu undang-undang.” jawab amaniParlin. Jangan harap, orang kota datang ke desa, omongan mereka akan didengarkan oleh para pengunjung lapo itu. Mungkin mereka, para penikmat obrolan politik ala lapotuak, sudah lebih tahu soal politik ini dari pada pengamat politk sekalipun.
Jam dulu, nongkrong di lapo tuak hanya untuk bahas togel. Berapa angka jitu, teisen, macchau, kode shanghai, hingga kode alam. Bahkan, semua di kode alam-kan. Ke ladang, hutan, ke sawah juga bawa pulpen. Ada orang jatuh atau dapat kecelakaan, bukan ditolong, tapi cari sesuatu yang bisa dijadikan kode alam. Atau barang kali ada yang ke gereja hanya untuk mendapatkan kode togel, berharap penetua ataupun pendeta salah baca nomor buku ende, atau alkitab.
Bedanya saat ini, orang ke lapo hanya untuk bahas politik, pemilu dan caleg. Jaman reformasi, semua orang punya hak untuk berbicara. Bahkan, metode kampanye yang dilakukan oleh para caleg, dinilai tak mumpuni oleh mereka, para penggiat obrolan lapotuak. Hitung-hitungan pembagi suara?, jangan ditanya. Tanpa kalkulatorpun mereka sudah bisa menghitung suara dipemilu dan siapa yang bakal meraih suara terbanyak.
Belum lagi soal kebijakan pemerintah. Semua orang punya pandangan dan pendapat yang mungkin lebih bagus daripada omongan para pengamat politik yang saban hari selalu tayang di televisi.
Hal lain yang lucu tapi aneh, beberapa orang, yang sebenarnya jarang bergereja pun, rumahnya jadi tempat meminta doa dan berkat.
“Kami mau ke rumah dulu lae…” ujar seorang tamu yang membawa sebundel berkas pada amaiJahirlop.
“Ada urusan apa?”
“Sebenarnya, cuma mau minta doa dan restu pada lae, sekalian mengajak lae untuk bergabung dengan kita, membangun kampung kita” ujar seorang lagi penuh teka-teki.
“Bagus itu,..” ujar amaniJahirlop. Merekapun bergegas ke rumah, mau ber-doa ala amaniJahirlop. Mungkin juga mau berhitung, berapa kali berapa hingga mencukupi setengah en tambah satu untuk mencapai blangan pembagi. Tanyalah sama ama-ama yang saban hari nongkrong di lapo, mereka pasti tahu.
“Di kampung ini harus segini lae, perkepala” ujar amaniHumirlop seraya memberikan tanda, tiga jarinya berdiri. Sang tamu sudah mengerti maksud amaniHumirlop. Mengangguk dan tersenyum, lalu mereka pamit pulang. Berdoa selesai!.
Dan banyak lagi yang muncul menjadi seorang pendoa dadakan, dimana doa dan restunya lebih dibutuhkan daripada doa seorang pendeta. Jaman reformasi!.
“Itulah kepala desa pilihan kalian itu, mau dibawa kemana desa ini kalau pemimpinya saja seperti itu”, ujar amani Parlin. Dia mulai mengungkit-ungkit masa pikades beberapa tahun lalu. Semua tinggal cerita bukan?. Pengunjung lapo itu hanya mengangguk kepala seolah paham dan setuju dengan pendapat amaniParlin. Hari menjelang siang, satu persatu pengunjung lapo menghilang. Nanti malam, kembali lagi dengan topik pembahasan yang pasti lebih seru.
* * *
“Pak, … Pak Parlin..” terdengar suara Mbok Inah berkali-kali mencoba membangunkan Parlin. Dia tergagap. Rasa kantuk dan capek karena berjaga selama dua malam berturut-turut mengantarnya tidur pulas. “Ada apa Mbok”
“Tadi dokter memanggil bapak, katanya putra bapak sudah lahir”
“Hah!…Astaga, jam berapa ini? kenapa kamu nggak membangunkan aku dari tadi?” berondongnya, lalu dilihatnya jam tanganya, pukul enam tiga puluh.
“Sudah dari tadi Pak, tapi bapak tidurnya pulas” ujar Mbok Inah. Parlin melompat dari kursi panjang, berlari kearah ruangan persalinan.
Dilihatnya Marlina sudah bangun dan menimang bayi mereka. Parlin memeluk dan mengelus rambut Marlina. “Aku ketiduran, sayang” ujarnya pelan, dia merasa bersalah meninggalkan istrinya sendirian berjuang melahirkan buah hati mereka.
“Nggak apa-apa Pa, aku tahu papa kecapekan, lihatlah bayi kita”
“Iya sayang” ujar Parlin. Matanya tak bergeming dari anaknya, yang tidur disamping Marlina.
“Papa disini sayang, papa akan menjagamu” ujar Parlin, dengan suara bergetar. Mengusap pipi si ucok, anak panggoaranya, nantinya.
“Gimana Pa, apa amang sudah kamu telepon?” Marlina menanyakan sekali lagi
“Sudah, tapi teleponku tak dijawab, ke rumah amang juga sama” jwab Parlin, mengarang jawaban. Amang adalah panggilan sopan seorang menantu pada mertua laki-laki. Panggilan ini juga berlaku umum.
“Ya sudah, nanti Papa telepon lagi, kasih tahu si ucok sudah lahir, gimana juga mereka orang tua kita, kita tak mungkin terus begini. Mungkin sudah saatnya kita harus berani dan bertanggung jawab atas perbuatan kita” ucap Marlina terbata.
“Sudah kupikirkan sayang, nanti kalau kamu dan si Ucok sudah sehat kita akan pulang kampung” ujar Parlin mantap, mengulang kembali janji, atau kalimat yang diucapkanya sebelumnya, sebelum putra mereka lahir.
Toh, semuanya harus dipertanggungjawabkan bukan?. Apapun resikonya, bahwa langkah mereka-mangalua- dua tahun lalu sudah salah. Namun kesalahan seperti itu bisa diperbaiki di kemudian hari. Adat mangalua, pada jaman dahulu adalah lazim diselenggarakan, di mana setelah beberapa bulan pernikahan, kedua mempelai, dengan diantar orang tua laki-laki, berkunjung, manuruk-nuruk, menyembah dan minta maaf atas kelancangan pengantin pria mangarajahon boru mereka dengan mangalua.
Prosesi adat sedemikian telah diaturkan dalam tatanan kehidupan masyarakat Batak. Pada akhirnya nanti, perbuatan pajolo holong, papudi uhum, mendahulukan kasih/cinta daripada hukum adat, yang diperbuat anak mereka mendapat restu dari kedua orangtua perempuan.
Parlin masih ingat ucapan AmaniParlin, Amongnya, ketika dia memberitahu kala dia mangaluahon Marlina, ke rumah namborunya di Jakarta, dua hari sesudah mereka wisuda dan seminggu sebelum dia berangkat ke Surabaya. “Bah, kau bawa mangalua borunya simaup itu?, lalu kau paksa aku berbesan dengan dia, tak sudi aku harus minta maaf ke dia itu, manalah harga diriku, kau tanggung sendirilah akibat perbuatanmu. Jauh-jauh hari sudah kubilang, kau jauhi itu perempuan, banyak perempuan lain yang bisa kau nikahi, asal jangan dia, sampai kapanpun aku tak meresuti kalian”
“Tapi Pa..”
“Tidak ada tapi-tapi-nya, durhakalah kau, tak menuruti nasihat orang tua. Tak kau ingat penghinaan keluarga itu ke aku?” nada suara amaniParlin semakin meninggi.
“Bukan begitu itoku, bagaimanapun, anak-anak ini sudah saling mencintai, apa ito masih lebih mementingkan ego ito daripada perasaan amang naposo ini?” ujar NanTarida ikut nimbrung.
“Bukan urusanku, kau juga ito, ikut memperkeruh suasana, tak kau rasakanya perasaan itomu ini?, kau uruslah disitu amangmu itu, banyak dongan tubu disitu yang bisa jadi walinya”, itulah ucapan terakhir dari AmaniParlin.
Sejam lebih mereka bercanda. Mencoba mengingat masa lampau. Lalu membanding-bandingkan wajah si ucok dengan wajah mereka berdua. Banyak hal yang membuat mereka tertawa, dan banyak hal yang membuat mereka berdua terdiam membisu. Hingga larut dalam pikiran masing-masing. Berkali-kali Parlin mengecup kening istrinya. “Aku sudah menjadi ayah”
Marlina hanya mengangguk, dia tahu perasaan dan emosi Parlin saat ini. Dan dia juga bahagia walau dalam hati ada kesedihan yang mendalam. Dipendamnya.
Ketokan pintu membuyarkan candaan mereka. Parlin dengan sigap menyongsong ke arah ketukan tadi. Dia terpana. terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Didepanya berdiri AmaniParlin Ibunya. AmaniParlin tersenyum, dan air matanya menitik. Dibentangkanya tanganya dua-dua. “Kesinilah anakku, ini amongmu, peluklah aku”.
Parlin memeluk erat AmaniParlin, juga ibunya. Bereka bertiga berangkulan, sesenggukan. Terbata, Parlin mengucapkan kata maaf. Hanya itu kalimat yang terucap dari mulutnya. Dengan kasih, NaiParlin mengelus anak buhabajunya, yang sudah dua tahun ini menghilang dari hadapanya.
Keharuan mereka dibuyarkan oleh tepukan tangan di punggung Parlin. Dia menoleh kebelakang. Wajahnya pucat. Tegang. Sosok yang sangat dikenalnya berdiri di belakang dengan senyum lebar. “Anakku..” suara berat laki-laki paruh baya dengan mata berkaca-kaca. “Marilah anakku, datanglah kesini, aku ingin memelukmu erat”
“Eh,..e,…. Tulang…” ujar Parlin terbata.
“Bah, kau panggil tulang lagi samaku?, ucapan maccam mana itu, sudah kau nikahi putriku, kau panggil tulang lagi?, aku ini mertuamu. Marilah helaku hasian, peluklah aku”, rupanya AmaniMarlina juga sudah datang.
Tangis Parlin meledak dalam pelukan amaniMarlina. Dia tak menyangka akan pertemuan dalam kondisi seperti ini. Bingung, kaget, haru dan rasa lain menyesak dalam dada, ketiga apa yang tidak kita harapkan tiba-tiba terjadi. Bercampur aduk menjadi satu rasa bahagia, melihat orang yang dicintai bisa berkumpul bersama. Kado terindah buat putra mereka.
“Adapa sih Pa, ribut-ribut” terdengar suara Malina dari balik tirai penutup tempat tidurnya.
Tergopoh amaniMarlina menuju tempat tidur Marlina yang masih terbaring lemah. Marlina histeris melihat amongnya. Meraung seraya memeluk amaniMarlina. Tak terucap dengan kata, hanya air mata yang berurai membasahi pipi Marlina. Haru biru menghiasi ruangan bercat putih itu. NaiMarlina tak henti-hentinya mencium wajah borupanggoran, Marlina. Air mata ketiganya semakin deras, menyatu. “Sudahlah boruku, hasian, kami sudah cukup bahagia dengan kelahiran pahoppu ini, yang lalu biarlah berlalu. Hugomgom do ho boru hasian, aku mencintaimu putriku tersayang-” ucap amaniMarlina.
AmaniParlin mencoba mengambil jarak dengan sedikit menjauh, memberikan kesempatan pada besannya. Dia tahu apa yang ada dalam perasaan ibu yang melahirkan putri, yang kemudian berpisah lama.
Bagaimanapun perilaku anak, sebagai orang tua dituntut harus bisa lebih bijaksana menyikapinya. Nantarida, namboru Parlin mungkin seorang ibu yang bijaksana dalam menyiakpi persoalan. Tanpa sepengetahuan Parlin, setiap saat dia memberikan kabar kepada ibotonya. Dengan lembut, Nantarida menyampaikan kegalauan hatinya kepada amaniParlin. Janda paruh baya itu sangat tahu apa yang amaniParlin rasakan.
Ternyata, apa yang disampaikan NanTarida berkenan di dalam hati AmaniParlin. Ya, tak ada salahnya orangtua mengalah pada anak. Dengan bujukan NanTaridalah, hati amaniParlin luluh dan mau menjalin hubungan kembali dengan AmaniMarlina.
Apakah ini yang dinamakan kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan?, selagi embun pagi masih turun menghinggapi bumi, selagi hangatnya mentari pagi menyinari bumi, kasih ibu takkan pudar, lapuk dimakan jaman.
“Siapa nama pahompu kami ini Parlin, apa kalian sudah mangaririt nama buat dia?” tanya amaniMarlina
“Belum ada namanya Amang, tapi kami sudah punya calon nama”
“Siapa”
“Marhasak Galumbang”
“Bah..”
“Ha..ha..ha..” tergelaklah tawa amaniParlin dan amaniMarlina.
“Sebaiknya ditambahkan lagi dengan Dame di depan nama itu”
“Boleh amang, nama dari ompungnya”
“Iya, Dame Marhasak Galumbang”
“Iya, iya, saya telah menjadi oppuDame, he..he..he ” timpal amaniParlin seraya merangkul amaniMarlina.
Nama yang cukup indah. Bagi AmaniParlin dan AmaniMarlina, nama itu selalu melekat dalam ingatan dan punya kenangan tersendiri. Keduanya adalah bagian dari tim sukses dari pasangan calon bupati dengan nama kampanye Marhasak dan Galumbang di pilkada tahun lalu. Kedua calon ini bersaing ketat, dengan segala cara untuk mendapatkan suara dan simpati masyarakat. Mulai dari membagi-bagikan amplop yang berisi uang yang dinamakan dengan ingot-ingot, hingga pemberian sembako dan baju.
Bahkan, amaniParlin semakin rajin ke ulaon adat, mandungoi poso-poso na sorang, hingga acara tardidi dan malua. Lalu marlelang disetiap acara penggalangan dana di Gereja. Tak ketinggalan di acara pesta muda-mudi, musik rakyat, organ tunggal, hingga dangdutan. Sawer sana, sawer sini. Ya, semakin sering dia menyebut nama calon, semakin terkenalah calon itu. Pendidikan politik ala kampung-kampung. Demi sebuah suara, para tim sukses ini rela melakukan apapun. Yang jelas, mereka telah dibayar dan dijanjikan sesuatu bila calon yang mereka usung akhirnya menang, dan jadi bupati.
Nanti, sehabis pesta demokrasi, dua program yang pasti dijalankan para gladiator pilkada ini. Yang kalah berpikir bayar hutang, yang menang berpikir untuk secepatnya balik modal.
AmaniParlin dan amaniMarlina sebagai tokoh masyarakat diangkat menjadi ketua tim-sukses yang pada akhirnya, kedua calon ini sama-sama kalah. Pilkada hanya menyisakan aroma permusuhan atau perang dingin diantara tim suksesnya.
“Rasanya lebih pas kata Dame daripada Natal. Walaupun anakku lahir di penghujung Desember”, Parlin membathin. Natal diplesetkan menjadi Natal-u,-yang kalah. Bupati Natal, -Bupati natalu. Biarlah dengan kelahiran cucu mereka ini, segala perselisihan dimasa lampau sirna seketika. Parlin dan Marlina berpandangan, dengan tatapan penuh bahagia.

Selasa, 29 November 2011

cerpen-cerpen batak dan keunikan budayanya